JakOnline – Larangan terhadap suporter tandang di Liga 1 Indonesia belum ada tanda-tanda akan dicabut. Ketua Umum PSSI Erick Thohir, pernah menegaskan bahwa kebijakan ini diambil karena Indonesia masih dalam \”masa transisi\” di bawah pemantauan FIFA usai tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang pada Oktober 2022.Sekilas, keputusan ini terdengar penuh kehati-hatian. Namun, narasi yang dibangun seputar “arahan FIFA” terdengar sangat tidak nyambung.
Mengutip dari Kumparan, Erick menyatakan larangan tandang tersebut masih akan berlaku.”Apalagi kemarin ada perwakilan FIFA, jadinya karena ada kejadian, dari dua tahun diperpanjang [sanksi larangan suporter tandang],” tutur Erick kepada awak media seperti dikutip dari Kumparan yang terbit pada 5 Juni 2025.
“Belum [suporter tandang menonton di Liga 1], gimana kondisinya.”Kalau ada suporter yang menjadi korban lagi bagaimana, berdosa kita. Ketika suporter tidak bisa pulang ke rumah, dosa enggak? Sepak bola bukan cuma entertainment. Kita tidak mau kan tetangga, keluarga kita enggak pulang.”Sekarang, yang jadi pertanyaan adalah, apakah benar FIFA meminta Indonesia melarang suporter tandang?
Erick Thohir dan PSSI menjadikan Tragedi Kanjuruhan sebagai titik pijak kebijakan larangan away. Namun satu fakta penting yang entah kenapa federasi selalu abai, atau bahkan tebal muka.Ketika pertandingan yang menempatkan Persebaya Surabaya dengan status tim tamu digelar di Stadion Kanjuruhan, tidak ada suporter tamu yang hadir.Pertandingan yang memanas, ditambah rivalitas klasik Jawa Timur, membuat pengelola laga melarang distribusi tiket untuk pendukung tim tamu.
Artinya, seluruh 135 korban jiwa adalah suporter tuan rumah, bukan karena gesekan antar kelompok, melainkan akibat penembakan gas air mata secara brutal oleh aparat, dan akses keluar stadion yang tertutup.Dalam berbagai pernyataan publik, Erick Thohir menyebut bahwa keputusan larangan away merupakan bagian dari pengawasan FIFA terhadap gerak-gerik suporter liga domestik tanah air.
Meskipun demikian, hingga saat ini tidak ada dokumen resmi FIFA yang menyatakan larangan suporter tandang merupakan langkah mitigasi dari Tragedi Kanjuruhan.Pernyataan ini kemudian diperkuat oleh Arya Sinulingga, Staf Khusus Menteri BUMN yang juga menjabat sebagai Komisaris PT Liga Indonesia Baru (LIB), yang juga dikenal sebagai tangan kiri Erick Thohir. Ia menyebutkan bahwa larangan ini mengikuti ‘arahan dari FIFA’.”Berdasarkan arahan FIFA, dalam hal ini, penonton tim tamu tidak diizinkan hadir di stadion. Ini adalah hal yang harus dilaksanakan oleh kita bersama.” ucap Arya dikutip dari Sindonews yang terbit pada 22 Agustus 2023.
FIFA memang memiliki sejumlah regulasi ketat dalam dokumen seperti FIFA Stadium Safety & Security Regulations yang dirilis pada 2022 dan FIFA Stadium Guidelines.Namun, isinya bukan tentang larangan atas kehadiran suporter tandang, melainkan tentang beberapa hal teknis.
Mulai dari manajemen keamanan menyeluruh, penilaian risiko pertandingan, zonasi dan segregasi suporter, pengendalian akses dan evakuasi, hingga kapasitas stewarding dan mitigasi insiden.Pada laga berisiko tinggi, FIFA justru menganjurkan pemisahan fisik antar kelompok suporter, buffer zone, dan peningkatan jumlah petugas keamanan.
Tidak satu pun dari dokumen resmi FIFA menyatakan bahwa melarang suporter tandang adalah solusi mutlak.Alih-alih berinvestasi memperkuat infrastruktur keamanan seperti membangun sistem zonasi, pelatihan steward, hingga penataan sektor tandang yang aman, PSSI memilih jalur cepat dengan mencegah suporter tandang datang sama sekali.
Langkah ini mungkin terdengar pragmatis, tapi justru menyembunyikan akar masalah sebenarnya yakni manajemen stadion yang buruk dan hilangnya akuntabilitas terhadap aparat keamanan.Kebijakan ini adalah solusi instan, tapi juga penghindaran. Suporter dijadikan kambing hitam, padahal mereka bukan penyebab tragedi.
Jika melihat konstelasi tensi suporter liga domestik, langkah larangan tandang ini memang terdengar preventif. Namun, menjadikan Tragedi Kanjuruhan sebagai pembenaran untuk memberlakukan kebijakan yang demikian, merupakan tindakang gaslighting terbesar federasi terhadap pecinta sepak bola dalam negeri.Seolah-olah tragedi terjadi karena ulah vandalis yang dilakukan oleh kelompok suporter ketika bertandang ke markas lawan.
Padahal, kenyataannya berbanding terbalik.Bahkan ketika suporter tim tamu tidak berada di stadion, mereka yang gugur adalah sesama pecinta sepak bola dari kelompok tuan rumah.Namun, entah mengapa gugurnya 135 nyawa di Malang malam itu, menjadi pembenaran untuk menyalahkan ulah suporter secara keseluruhan dengan menerapkan larangan menonton laga tandang. JakOnline
