JakOnline – Sejak Stadion Menteng digusur oleh Gubernur Sutiyoso pada 2006, Persija Jakarta belum juga punya kandang pasti. Dengan kondisi ini, apakah pembangunan stadion sendiri bisa menjadi opsi yang patut dipertimbangkan serius di masa mendatang?
Setiap musimnya, Macan Kemayoran harus berpindah dari satu stadion ke stadion lainnya untuk menggelar pertandingan kandang. Mulai dari menggunakan kandang Stadion Sanggraha Pelita Jaya yang kemudian dikenal dengan Stadion Lebak Bulus, lalu ada Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), hingga Stadion Patriot Chandrabaga di Bekasi. Semua itu memang identik dengan Persija. Namun, mau tidak mau harus diakui, stadion-stadion tersebut bukan kandang Persija yang asli, melainkan hanya opsi sementara demi kompetisi bergulir.Padahal di masa lalu, Persija memiliki sistem klub yang terintegrasi dengan baik secara piramida. Jalur pembinaan pemain memiliki roadmap jelas dari mulai kompetisi klub internal sampai ke tim utama. Semua itu bisa berjalan dengan kondisi Persija punya kandang sendiri.
Kolaborasi Pemerintah Provinsi Manajemen Persija di bawah kepemimpinan Mochamad Prapanca memang sempat melempar wacana pembangunan stadion sendiri. Namun, menurut Prapanca seperti dikutip dari Tempo, ide tersebut ditentang oleh Gubernur DKI Jakarta saat ini, Pramono Anung. Pramono menjamin, selama era kepemimpinannya, Persija akan berkandang di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara.
Usulan ini menjadi realisasi setelah diawali penandatanganan nota kerjasama antara Persija dan Jakpro sebagai pengelola resmi stadion. Sejauh tiga agenda kandang berjalan, memang tim ibu kota bisa dengan nyaman menggelar pertandingan di JIS. Namun, memasuki pekan keenam, Persija kembali terusir karena JIS akan digunakan untuk konser grup asal Korea Selatan, NCT.
Manajemen Persija menyatakan bahwa pihak promotor konser sudah mengamankan jadwal di JIS sebelum nota kesepakatan dengan Jakpro diteken. Sehingga, dari sudut pandang legalitas, tidak ada yang bisa dilakukan Persija selain mencari alternatif kandang lain. Hal ini tentu menjadi catatan bagi sejumlah pemegang keputusan mulai dari manajemen klub, pengelola stadion, hingga pemerintah provinsi.
Mungkin Pramono bisa menjamin Persija akan terus berkandang di JIS selama era kepemimpinannya. Namun, periode kepemimpinan Pramono paling lama hanya bisa sampai 10 tahun jika ia kembali terpilih dalam Pilkada mendatang. Tapi apa yang akan terjadi setelah itu?
Artinya, opsi membangun stadion sendiri untuk Persija perlu kembali dipertimbangkan serius. Tanpa bermaksud menyepelekan inisiatif pemerintah untuk keberlangsungan sepak bola Jakarta yang mapan, kepemilikan stadion sendiri justu penting untuk keberlanjutan kehidupan klub.
Dengan punya stadion yang dikelola sendiri, biaya sewa bisa ditekan. Jadwal penggunaan pun sudah pasti menjadi prioritas. Selain itu, program latihan baik tim utama maupun tim muda, bisa fokus di satu tempat. Kemudian yang paling penting, terletak di Jakarta, karena Persija lahir di Jakarta, bukan di Sawangan atau di Bekasi.
