JakOnline – Situasi sosial politik serta keamanan Indonesia memang sedang bergejolak. Berawal dari deretan aksi massa mengkritik kebijakan tunjangan para anggota DPR dan tuntutan buruh, eskalasi menjadi liar setelah Affan Kurniawan, seorang pengendara ojol meninggal dunia.Affan gugur ketika menjalankan tugas karena dilindas brimob menggunakan kendaraan taktis (rantis) di Pejompongan. Keesokan harinya, kemarahan publik semakin menjadi-jadi.
Namun, penyampaian aksi menjadi semakin tidak terkendali setelah diduga ada penyusup yang ingin menunggangi kemarahan massa.Imbasnya bagi sepakbola dalam negeri yang sialnya kita gandrungi ini, adalah tertundanya sejumlah pertandingan Super League 2025/26. Setidaknya memasuki pekan keempat, ada tiga pertandingan yakni PSM vs Persebaya, Persita Tangerang vs Semen Padang, dan Persib Bandung vs Borneo FC. Kesamaan tiga pertandingan tersebut adalah digelar di kota dengan tingkat ketegangan tinggi.
Setelah tiga pertandingan tersebut dipastikan tertunda, muncul kekhawatiran bahwa liga akan dihentikan sementara. Kekhawatiran akan dihentikannya liga terkait dengan performa Persija Jakarta yang menjanjikan di atas lapangan. Setidaknya, sejarah mencatat ada dua momen terhentinya liga ketika Macan Kemayoran sedang tampil bagus.Pertama adalah pada 2015 ketika masih bernama QNB League.
Ketika itu, ada ketegangan antara Kemenpora dan PSSI yang berawal dari verifikasi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). BOPI tidak mengesahkan Arema Cronus dan Persebaya untuk ikut kompetisi karena faktor legalitas.Penampilan Persija ketika itu memang belum sepenuhnya terlihat menjanjikan dengan hasil satu imbang dan satu kekalahan.
Namun, secara materi pemain, banyak yang menganggap Macan Kemayoran mampu berbuat banyak di liga dengan Stefano Lilipaly, Greg Nwokolo, Martin Vunk, hingga Evgeny Kabaev.Pada periode COVID, kompetisi juga harus dihentikan ketika Persija memiliki tambahan materi pemain seperti Osvaldo Haay, Evan Dimas, dan Marco Motta. Belum lagi Rezaldi Hehanussa sedang berada dalam puncak performanya.
Kini, kekhawatiran serupa kembali muncul. Namun, pertanyaannya, mana yang lebih mendesak? Hiburan 45×2 menit atau keselamatan warga? Sepak bola memang menjadi pelarian kita, para kelas pekerja untuk menghilangkan penat kehidupan selama sepekan.
Namun, di tengah situasi keamanan yang genting seperti saat ini, dan di tengah krisis kepercayaan publik terhadap aparat keamanan, keselamatan warga harus ditempatkan di atas segalanya.Memaksa liga terus bergulir tanpa jaminan keamanan yang memadai justru dapat membuka celah tragedi baru.
Sepak bola memang penting sebagai sarana hiburan dan pemersatu, tetapi ketika negara sedang berada dalam kondisi darurat keamanan, menahan diri demi keselamatan bersama adalah wujud tanggung jawab dan kepedulian sosial yang lebih besar.Tetapi jika diamati lebih dalam, menghentikan liga bukanlah solusi.
Bukankah memastikan keamanan dan ketertiban adalah mandat utama aparat keamanan? Jika aparat benar-benar menjalankan fungsinya secara profesional, pertandingan dapat tetap berlangsung dengan protokol keamanan yang ketat tanpa mengorbankan keselamatan masyarakat.Publik berhak menuntut jaminan keamanan, bukan larangan-larangan yang menjadi jalan pintas atas kegagalan penegakan hukum. Justru di tengah situasi sulit, negara seharusnya hadir untuk memastikan masyarakat dapat beraktivitas, termasuk menikmati sepak bola, dengan aman dan tanpa rasa takut. JO
