JakOnline – Ketika Persija Jakarta menelan kekalahan di final Copa Dji Sam Soe 2005, sepasang suami istri di belahan lain kota justru sedang berbahagia menanti kelahiran anak pertama mereka. Sekitar sebulan setelah pertandingan dramatis di Gelora Bung Karno tersebut, lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Arlyansyah Abdulmanan.
Lahir dan tumbuh besar di Jakarta, orang tua Arly mengenalkan sepak bola sejak kecil. Tetapi, jalur serius sepak bolanya dimulai ketika bergabung dengan Akademi Sepakbola Intinusa Olah Prima Football Club, atau yang lebih dikenal dengan ASIOP.
Ketika menginjak 13 tahun, Arly kemudian melanjutkan pencarian ilmu sepak bola ke Asia Football School.Dari sanalah Arly membuka jalan dan relasi ke jaringan sepak bola nasional yang lebih luas. Pada 2021, dirinya bergabung dengan tim muda PSJS dan lanjut ke Persib U18 setahun berselang.
Arly kembali ke Jakarta untuk bergabung dengan PPOP Jakarta, yang kemudian membawanya ke pelukan tim ibu kota untuk bergabung bersama tim U18.Pada Agustus 2024, Persija meminjamkan Arly ke PSIM Yogyakarta. Sebuah kesempatan yang tidak disia-siakan untuk menggali pengalaman sedalam mungking. Bersama Figo Dennis, keduanya menjadi bagian penting PSIM dalam meraih gelar juara Liga 2, capaian yang membawa tim tersebut promosi ke kasta tertinggi. Arly? Kembali ke Persija dan langsung mengisi daftar tim inti.
Tidak butuh waktu lama bagi Arly untuk mengklaim tempat di tim utama. Bahkan, dirinya mampu menggeser Rayhan Hannan dari slot pemain U23 untuk starter tim. Pemain 20 tahun tersebut benar-benar memperlihatkan kematangan mental bermainnya. Laga perdana Persija musim ini di Jakarta International Stadium (JIS) benar-benar menjadi panggung Arly untuk semakin mencuri perhatian.
Arly termasuk yang mencolok di antara pemain Persija yang lain. Kulit putih, postur ramping, dan wajah baby-face seperti Ole Gunnar Solskjaer, membuat dirinya mudah dikenali. Tidak hanya nyampe dari segi fisik, Arly juga membuktikan dirinya layak berada di tim.Arly tampil dengan ketenangan luar biasa meski dikelilingi para pemain senior. Tidak terlalu terburu-buru menusuk pertahanan lawan.
Bola di kakinya benar-benar diperhitungkan dengan matang ketika harus dioper atau dieksekusi langsung. Tembakan jarak jauhnya ketika pertandingan memasuki lima menit pun jadi perkenalan kepada publik Jakarta sore itu, meski belum berbuah gol. Tetapi, kontribusi Arly tidak berhenti di situ. Ia sukses menyumbang satu assist untuk gol spektakuler Maxwell Souza. Hari itu, Arly tampil selama 84 menit dalam kemenangan 4-0 Persija atas Persita Tangerang.
Pertandingan kedua melawan Persis Solo, Arly kembali mengisi daftar 11 pertama. Namun, kali ini ia hanya tampil pada babak pertama. Setelah pertandingan, beredar videonya menangis di ruang ganti. Para pemain senior, termasuk Andritany Ardhiyasa, terlihat menenangkannya.
Sehari berselang, pelatih Persija, Mauricio Souza menyatakan Arly terbawa emosi karena merasa tidak mampu tampil baik sesuai harapan pelatih. Padahal, Souza mengapresiasi permainan pemain muda tersebut. Kini, sudah dua pertandingan (vs Malut United dan Dewa United), Arly tidak terlihat di atas lapangan. Meski sejauh ini Persija masih tampil sesuai jalur, patut ditunggu kembali aksi-aksi Arly di sisa musim ini. JO
