Thursday, July 9, 2026

JakOnline – Mendekati empat tahun sudah berlalu sejak malam kelam di Kepanjen 1 Oktober 2022. Tragedi yang merenggut lebih dari 135 nyawa itu masih menjadi luka yang belum kering. Proses hukum yang digelar berulang kali tidak menyentuh aktor-aktor yang seharusnya paling bertanggung jawab. Lolosnya tokoh-tokoh kunci dari jeratan hukum tidak ada bedanya dengan memamerkan pantat ke keluarga korban.Sejak 2023, perwakilan keluarga korban dengan didampingi tim dari LBH, membuat laporan resmi ke Mabes Polri mengenai kejadian di Stadion Kanjuruhan.

Namun ternyata, dua tahun berselang atau tepatnya pada 1 Oktober 2025, baru diketahui bahwa laporan tersebut belum masuk ke daftar laporan resmi.Artinya, selama dua tahun, berkas yang diterima, diletakkan begitu saja entah di atas meja atau di tempat arsip. Barulah setelah ada atensi dari sejumlah LSM dan media massa, laporan keluarga korban baru teregistrasi secara resmi pada 2 Oktober 2025.Sebagai suporter sepak bola yang berasal dari Jakarta, kita memang tidak mengalami langsung kejadian tersebut. Namun, mustahil tidak ada rasa sesak dan perih ketika mengetahui korban jumlah korban terus bertambah cepat dari menit ke menit dari pantauan media sosial.

Tiga tahun berjalan, seruan-seruan protes perlahan menjadi sporadis. Padahal, Tragedi Kanjuruhan adalah sesuatu yang patut terus diingat. Bukan sekadar mengungkit dendam. Tetapi, apa yang terjadi malam itu, bisa terjadi kepada siapa pun di masa mendatang, termasuk kita.Salah satu karakter culas manusia Indonesia adalah bersikap acuh terhadap perkara yang belum pernah dialami, meski perkara tersebut menyangkut nyawa. Ingatan soal Kanjuruhan harus terus dipupuk agar perlahan menjadi perhatian bersama. Untuk saling jaga agar kejadian serupa tidak terulang.

Mengutitp perkataan Zen RS, Tragedi Kanjuruhan terjadi di lokasi yang dipenuhi puluhan ribu orang. Rekaman-rekaman video di lokasi kejadian sudah puluhan bahkan ratusan tersebar di internet. Beberapa bahkan berhasil mematahkan klaim polisi soal menembak ke tribun kosong hingga pintu yang tertutup. Tapi, jangankan keadilan, kebenaran saja bisa direkayasa.

Sebagai suporter, langkah sederhana untuk memulai adalah dengan terus merawat dan mengingatkan sesama betapa tragisnya peristiwa tersebut. Ditambah dengan respon para pemangku kepentingan yang terkesan lempar tangan. Terlebih para tokoh-tokoh kunci yang lolos dari jeratan hukum. Sampai sekarang, berapa banyak media yang menyoroti kengototan Emtek Group sebagai pemegang hak siar untuk tetap mempertahankan jam pertandingan digelar malam hari?

Suporter, selama tidak tersandera kepentingan dan misi politis, punya kemewahan untuk bergerak leluasa dan bersuara. Contoh-contohnya sudah banyak kita lihat di berbagai belahan dunia. Sejak 2015 di Liverpool, kelompok fans dari dua tim terbesar di sana yakni Liverpool FC dan Everton, bersatu dalam sebuah gerakan sederhana bernama Fans Supporting Foodbanks. Sebuah inisiasi yang bertujuan memerangi kelaparan di lingkungan sekitar mereka.Mundur ke 2007, fans AS Roma dan Lazio menurunkan ego mereka untuk bersatu dalam gerakan protes buntut dari terbunuhnya Gabriele Sandri oleh polisi.

Dua kelompok suporter yang terkenal dengan rivalitas brutal di ibu kota Italia tersebut punya akal sehat untuk bersatu melawan musuh sebenarnya.Padahal, rivalitas AS Roma dan Lazio lebih dari sekadar sepak bola, tapi punya bahan bakar sentimen ideologi yang tidak sembarangan. Roma, dengan warna merahnya, berangkat dari kalangan kiri. Sedangkan Lazio, kental dengan pandangan sayap kanan. Belum lagi bicara soal Istanbul United, ketika suporter Galatasaray, Besiktas, dan Fenerbahce bersatu menentang sikap otoriter kepolisian Turki.

Tidak perlu jauh-jauh ke Eropa. Rekan-rekan suporter di Jawa Tengah dan Yogyakarta bahkan langsung mengambil sikap konkret pasca tragedi dengan mengikrarkan Islah Mataram. Ini bukti bahwa warna, bendera, seragam, atribut, tidak lebih dari sekadar omong kosong yang jelas tidak setara jika disandingkan dengan nyawa manusia. JO

0 Comments

Leave a Comment